Ingin Ramping? Biasakan Sarapan!

MEMULAI hari dengan sarapan pagi adalah kebiasaan positif. Tak hanya membuat tubuh lebih berenergi, orang yang rajin sarapan terbukti mampu membentuk tubuhnya lebih langsing.

Ahli gizi dan kuliner, Tuti Soenardi mengungkapkan, sarapan pagi merupakan jadwal makan paling penting dalam keseharian. Jika manusia diibaratkan mobil, sarapan adalah “bensin pertama” yang membuat mobil bisa berjalan, bahkan untuk melaju kencang. Sebaliknya, jika kekurangan “bensin” atau bahkan kosong sama sekali, mobil pun berjalan tersendat dan pada akhirnya akan mogok di tengah jalan sebelum sampai di tujuan.

Sedemikian pentingnya peran santap pagi bagi tubuh kita, namun sayangnya banyak orang menganggap remeh dan melewatkan ritual sarapan begitu saja. Alasannya beragam, seperti takut gemuk, tidak ada waktu, bangun kesiangan, tidak lapar, malas, dan tidak terbiasa. Padahal, tubuh perlu asupan makanan untuk mengganti energi dalam tubuh yang terus berkurang sepanjang malam, sehingga organ tubuh tetap dapat bekerja optimal.

Sebuah penelitian terbaru juga mengungkapkan manfaat lain dari aktivitas makan pagi, yakni membuat berat badan lebih ideal alias ramping. Mungkin agak sulit dipercaya, apalagi bagi Anda yang meyakini bahwa untuk mengurangi bobot badan haruslah mengurangi makan juga. Lantas, mengapa kita justru dianjurkan para ahli gizi untuk sarapan?

Pernyataan bahwa sarapan membuat bobot lebih ideal tentu bukan tanpa bukti. Berdasarkan data Survei Kesehatan Nasional Amerika Serikat terhadap orang dewasa, didapati bahwa orang yang menyantap makanan rendah kalori dalam menu sarapan mereka cenderung memiliki kualitas diet yang lebih baik. Di samping itu, pria yang mengonsumsi sarapan sehat secara umum memiliki badan lebih ideal. Pada wanita, mereka yang terbiasa sarapan juga cenderung memiliki berat badan lebih rendah ketimbang rekannya yang mengabaikan acara santap pagi.

Hal yang menarik dari studi terbaru ini adalah bahwa orang yang menyantap menu sarapan yang rendah “kepadatan energi” cenderung akan memilih makanan berkualitas baik (yang rendah kepadatan energi juga) pada jadwal makan berikutnya.

“Hal ini mungkin membantu mengendalikan berat badan yang lebih baik,” ungkap dr James Rippe, seorang ahli kardiologi yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Adapun yang dimaksud kepadatan energi adalah jumlah kalori yang terkandung dalam makanan. Sebagai contoh, buah, sayuran, dan biji-bijian tinggi serat memiliki kepadatan energi rendah, sementara pastry dan donat mengandung kalori alias kepadatan energi tinggi.

“Temuan terbaru menggarisbawahi pentingnya memilih sarapan rendah kalori atau kepadatan energi,” kata Rippe yang juga mengelola Rippe Lifestyle Institute di Shrewsbury, Massachusetts, AS.

Penelitian yang disebut-sebut Rippe didasarkan pada hasil survei terhadap lebih dari 12.000 orang dewasa di negeri Paman Sam yang berpartisipasi dalam tiga survei kesehatan selama kurun waktu 1999-2004. Secara umum, orang yang mengonsumsi menu sarapan rendah kalori cenderung akan memilih makanan berkalori lebih rendah selama sisa waktu makannya hari itu.

Secara grup spesifik, mereka juga dilaporkan memiliki kualitas diet lebih tinggi, yakni mengonsumsi menu lebih bervariasi dan mengandung lebih banyak vitamin dan mineral.

Sedangkan pada kaum adam, mereka yang mengonsumsi sarapan rendah kalori cenderung memiliki berat badan lebih rendah, meskipun faktor olahraga dan pendapatan turut memengaruhi. Sementara wanita, apa pun jenis sarapannya, mereka tetap berisiko lebih rendah mengalami obesitas jika membiasakan sarapan pagi. Adapun kunci utamanya adalah sarapan berkualitas tinggi, bukannya ngemil kue atau donat.

Laporan penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition tersebut mendukung studi sebelumnya yang menyebutkan bahwa orang yang terbiasa sarapan berisiko lebih rendah mengalami kegemukan.

Studi yang dilakukan terhadap ribuan remaja usia belasan di Minneapolis juga mengungkap, makin sering remaja menyantap menu sarapannya, makin rendah pula potensi mereka untuk kelebihan berat badan. Kesimpulan penelitian yang berlangsung selama lima tahun tersebut dimuat dalam jurnal Pediatrics edisi Maret 2008.

Merujuk hasil penelitian di atas, bila Anda tak pernah atau jarang sarapan pagi, sebaiknya segeralah mengubah budaya tersebut. Lalu, biasakan diri untuk makan pagi sebagai awal aktivitas Anda menjalani keseharian.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s


  • gadgeTTechs - Read the latest technology news about gadgets, laptop computers, hardware, software, digital camera, video games, including new product releases, and future technology trends.
  • RSS Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: