seAbad Kebangkitan Bangsa

Apakah Negara kita sudah Bangkit?


Bangkit dari APA?

Bulan Mei identik dengan kebangkitan nasional. Perkumpulan priyayi Jawa bernama Budi Utomo (BU) disebut-sebut sebagai motor penggeraknya. Peran umat Islam dipinggirkan dalam torehan sejarah kemerdekaan.

Ada yang harus direvisi dalam sejarah terbentuknya negeri bernama Indonesia ini. Kebangkitan nasional yang dimotori Budi Utomo dianggap sebagai embrio awal lahirnya kesadaran bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Sementara peran umat Islam coba dipinggirkan.

Pada tanggal 20 Mei 1908 murid-murid STOVIA, OSVIA, Sekolah Guru, Sekolah Pertanian, dan Sekolah Kedokteran Hewan mengadakan pertemuan di Jakarta. Pertemuan inilah yang melahirkan organisasi Budi Utomo. Lalu, apakah kelarian BU ini otomatis menandakan kebangkitan nasional? Eit…Eit…nanti dulu!

Bahasa Melayu
Budi Utomo tak lebih dari sebuah organisasi kesukuan, bukan kebangsaan. Anggotanya saja, khusus orang-orang Jawa. Suku non-Jawa, tidak boleh masuk BU. Bahasanya pun bahasa Jawa, padahal saat itu bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antar seluruh komponen bangsa di Nusantara adalah bahasa Melayu, cikal-bakal bahasa Indonesia.

Mitra muda pasti kenal dengan Pramoedya Ananta Toer? Itu tuh sejarawan yang terkenal dengan novel “Tetralogi Pulau Buru-nya”. Sang calon penerima nobel sastra namun tidak jadi itu, menekankan pentingnya penggunaan bahasa Melayu sebagai salah satu faktor penyatuan Hindia Belanda (nama bangsa kita sebelum merdeka).

“Sekali Tuan mulai menulis Melayu, Tuan akan menemukan kunci… Menulis Melayu, bahasa negeri Tuan sendiri, itulah tanda kecintaan Tuan pada negeri dan bangsa sendiri,” demikian kutipan dalam sebuah dialog di novel Bumi Manusia-nya Pramoedya.

Itulah pentingnya mendalami bahasa Melayu yang sudah tersebar dan digunakan di seluruh kepulauan Indonesia. Nah, bagaimana mau menyatukan Hindia Belanda kalau hanya pakai bahasa Jawa, bahasa Sunda atau bahasa Belanda?

Yang dipakai adalah bahasa Melayu. Itu baru dari segi kebahasaan, dimana BU tidak “nyambung” sebagai motor kebangkitan nasional. Dan terbukti, kita pun menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional yang “dimodifikasi” jadi bahasa Indonesia.

Pakar sejarah Indonesia bernama George Mac T Kahin bahkan dengan tegas menyatakan, salah satu faktor penyatuan Hindia adalah perkembangan suatu lingua franca lama di kepulauan itu, yaitu bahasa Melayu, sebagai bahasa kebangsaan, yang bersama-sama dengan agama Islam telah berjaya melenyapkan paham sempit mengenai nasionalisme Indonesia (1980: 50).

Sejak lahirnya hingga 31 tahun kemudian, BU tidak pernah mau mengakui bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Organisasi ini sangat eksklusif dan tidak mau menerima anggota dari luar Jawa, malah pengennya bahasa Jawa atau Belanda sebagai bahasa nasional.

Masalah ini membuat kesal beberapa tokoh pejuang nasional pada waktu itu dan menganggap bahwa gerakan Budi Utomo adalah gerakan kebudayaan kejawen tulen yang menafikan peranan pemuda dari luar Jawa.

Javasentris sangat kental dalam tubuh BU. Lalu bagaimana bisa mengklaim bahwa organisasi ini merupakan awal kebangkitan nasional? Di sinilah terjadinya pemutarbalikan sejarah. Antara fakta dan mitos campur aduk jadi satu.

Menurut sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, DR Nina Lubis, sejarah menyangkut fakta. Sedangkan, mitos berhubungan pemberian makna suatu fakta dalam upaya memberikan ketenangan, membangkitkan semangat, kepercayaan, atau memberikan jawaban kepada masyarakat.

Nah di sinilah pentingnya kita mengkaji ulang fakta sejarah yang ada. Budi Utomo itu adalah organisasi atau kumpulan para priyayi, dengan fokus perhatian pada masalah pendidikan dan kebudayaan. Bukan mempersiapkan kebangkitan nasional untuk menyongsong kemerdekaan.

Pada kongres tahun 1908 di Yogyakarta, muncul dr Tjipto Mangunkusumo yang menginginkan BU menjadi partai politik yang beranggotakan seluruh lapisan masyarakat di seluruh Indonesia, bukan hanya priyayi Jawa. Namun, keinginan Tjipto ini kandas. BU tetap didominasi para priyayi, hingga akhirnya dia mengundurkan diri setahun kemudian.

Memang, BU tak lebih dari organisasi priyayi yang tidak banyak memainkan peran politik aktif. Padahal, berjuang atau perang merebut kemerdekaan adalah bagian dari strategi politik. Hingga bubarnya di tahun 1935, BU malah menampakkan diri sebagai partai resmi pemerintah kolonial Belanda. Lalu pegimane ceritenye, kelahiran BU dianggap sebagai kebangkitan nasional?

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibu Nina Lubis, ahli sejarah dari Unpad tadi, setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia harus berjuang mencegah kembalinya penjajah Belanda. Saat itulah, pemimpin bangsa berusaha mengobarkan semangat persatuan, dengan mengenang kembali berdirinya Budi Utomo dengan istilah “Kebangkitan Nasional”. “Untuk masa perang kemerdekaan memang diperlukan penciptaan “mitos” ini,” kata Bu Nina.

Meski faktanya Budi Utomo itu hanya menyangkut orang Jawa, tapi dikatakanlah bahwa semangat Budi Utomo adalah semangat nasional. Tentu saja “Kebangkitan Nasional” semacam ini adalah mitos untuk memberi semangat kepada rakyat.

Mitra muda, kita harus menyadari bahwa fakta sejarah itu berbeda dengan mitos. Jadi, kita juga perlu melakukan pemaknaan kembali “peristiwa 20 Mei 1908″ itu. Jangan sampai semangat kesukuan yang muncul dalam diri BU dianggap sebagai pemicu lahirnya semangat nasionalisme kebangsaan.

Kenape demikian? Sebab, jika semangat BU dikultuskan menjadi semangat kebangkitan nasional, maka peristiwa 1908 itu tidak berarti bagi orang di luar Jawa. Ketika kesadaran “nasional” (ingat lho pake tanda kutip) yang terbatas itu muncul, bagi orang luar Jawa yang masih merdeka, hal itu kagak berarti ape-ape.

Sekedar info nih, jaman sekian itu, beberapa daerah di luar Jawa pan masih ada yang merdeka. Ada kerajaan Bali, kerajaan Lombok, Sumbawa, Sulawesi dan kerajaan-kerajaan di Maluku maupun Kalimantan. Tentu saja, mereka gak bakal mau mengakui kebangkitan nasional versi Jawa, sebab Nusantara kan tidak hanya Jawa.

Agama Islam
Sebagai penduduk yang mayoritas di negeri ini, tidak dapat dipungkiri, umat Islam merupakan faktor terbesar dan terpenting dalam kemerdekaan bangsa. Sayang, orang banyak lupa bahkan sengaja melupakan peran umat Islam dalam membebaskan Indonesia dari belenggu kolonialisme dan imperialisme Belanda. Jadi, sebenarnya pelopor kebangkitan nasional adalah umat Islam.

Agama Islam juga merupakan salah satu faktor penting penyatuan dan rantai pengikat bangsa Melayu. Semangat nasionalisme yang padu adalah persamaan agama, yaitu agama Islam yang terdapat di seluruh kepulauan Indonesia. “Agama Islam tidak hanya rantai pengikat, tapi juga semacam lambang persaudaraan yang dapat mengawal atau mempertahankan diri daripada anasir-anasir pengacau asing dan tekanan dari agama-agama lain,” kata Kahin lagi.

Oleh karena itu, para tokoh Islam di zaman perjuangan dulu berusaha membentuk organisasi pribumi yang bercirikan agama Islam, melalui Syarikat Dagang Islamiyah (SDI). Inilah cikal bakal kebangkitan nasional, penyatuan antara unsur Melayu dan Islam dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Minke, tokoh utama novel tetralogi Pramoedya berkata, “Islam yang secara tradisional melawan penjajah sejak semula Eropa datang ke Hindia, dan akan terus melawan selama penjajah berkuasa… Tradisi sehebat dan seperkasa itu adalah modal yang bisa menciptakan segala kebajikan untuk segala bangsa Hindia (Jejak Langkah: 339).

Salah satu tokoh SDI, H.O.S Cokroaminoto pun memperkenalkan paradigma nasionalisme untuk membela Nusantara dalam kongres nasional tahun 1916 di Bandung. Cokroaminoto bahkan mendeklarasikan pemerintahan sendiri untuk bangsa Indonesia dan tidak mengakui nama Hindia Belanda yang diberikan oleh Belanda untuk Nusantara. Sayang, sejarah emas Muslim Indonesia kini hilang dari pendaran dan ingatan kolektif bangsa.

Parahnya, pada masa Orde Baru (Orba), pemerintahan diktator Soeharto mengeluarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1985 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, dimana diundang-undang semua ormas harus berazaskan Pancasila tidak terkecuali ormas Islam. Hal ini dilakukan untuk menekan berkembangnya gerakan yang bersimbol Islam dan agar umat Islam tidak berusaha muncul ke permukaan dengan nuansa religius dalam rangka memperjuangkan nasib bangsa ini.

Mitra muda, mari kita renungkan kembali bahwa kebangkitan nasional untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah di masa lalu dipelopori oleh umat Islam. Bukan yang lainnya. Makanya, muncul istilah penjajahan yang dilakukan Belanda terhadap Indonesia merupakan penjajahan yang dilakukan kaum kafir terhadap umat Islam.

source: siIwan

tanya Kenapa? …. ah ga penting ……


  1. “oia Katanya seeh [tapi emang berdasarkan bukti statistik] bahwa angka kemiskinan bisa ditekan/dikurangi pada tahun 2007 kemaren, tapi kenapa pula angka pengangguran dan angka putus sekolah pada tahun tersebut bertambah [11,7 juta]”

  2. cantigi

    salam kenal.
    selamat, 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional Indonesia😉




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • gadgeTTechs - Read the latest technology news about gadgets, laptop computers, hardware, software, digital camera, video games, including new product releases, and future technology trends.
  • RSS Terbaru

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • Twitter Terbaru

  • statistik blog

    • 2,514,862 visitor
  • hit counters
    Addiehf Rank
    ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free
  • arsip


%d blogger menyukai ini: