Kampuang Nan Jauh Di Mato – Provinsi Padang Sumatera Barat

Kampuang nan jauh di mato
Gunuang Sansai Baku Liliang
Takana Jo Kawan, Kawan Nan Lamo
Sangkek Basu Liang Suliang

Panduduknya nan elok nan
Suko Bagotong Royong
Kok susah samo samo diraso
Den Takana Jo Kampuang

Takana Jo Kampuang
Induk Ayah Adik Sadonyo
Raso Mangimbau Ngimbau Den Pulang
Den Takana Jo Kampuang

About these ads

  1. Melacak Pergaulan Siswa Yang Di Luar Batas

    Oleh : Marjohan
    Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

    DULU Kasus kehamilan dan pelanggaran seksual yang dilakukan oleh pemuda dan pemudi merupakan aib bagi orang tua dan kaum famili, sehingga yang bersangkutan diberi sangsi berat sampai diusir dari kampung. Sekarang kasus ini bila dilakukan oleh pelajar lebih banyak dikarenakan kepada nama sekolah. Ini tentu saja pukulan kepada wibawa sekolah sebagai Lembaga Pendidikan. Sebuah sekolah dianggap telah gagal atau disiplinnya kurang, bila kedapatan pelajar-pelajarnya melakukan kasus aib ini. Tak begitu dipersoalkan meskipun pelanggaran seksual itu sendiri terjadi di rumah atau tempat lain akibat kegagalan orang tua dalam mendidik anak. Pokoknya, paran sekolah, sering dituding.
    Bagi sekolah, langkah yang tepat untuk membersihkan nama baiknya adalah dengan cara memecat pelajar yang berkasus atau dengan cara memindahkan pelajar tersebut, apabila ia telah hamil atau melakukan abortus Sekarang rata-rata tiap sekolah telah mendapat jatah nama buruk. Tidak pandang bulu apakah itu sekolah negeri atau swasta, bahkan merupakan pukulan yang lebih berat lagi bagi sekolah agama. Kasus kehamilan dan pelanggaran seksual tidak hanya terjadi di sekolah kota, tetapi juga di sekolah-sekolah desa. Dan umumnya, dilakukan oleh pelajar tingkat SLTA.
    Rata-rata siswa SLTA yang berusia 16-20 tahun menurut teori Rumke sedang berada dalam masa genital. Dalam usia ini mereka penuh dengan dorongan emosional don dorongan libido, nafsu seksual. Dalam masa ini terjadi labilitas kejiwaan, yang bila tidak dikendalikan akan dapat mengarah kepada hal-hal negative. Apabila seorang pelajar tidak dapat mengendalikan diri misalnya, akan dapat mendorongnya untuk melakukan pergaulan bebas. Melakukan pelanggaran seksual terhadap teman wanitanya sendiri.
    Tentu saja kasus-kasus yang terjadi di sekolah dilakukan oleh sepasang pelajar putera dan puteri. Tetapi resiko tertinggi dan berat ditanggung oleh pelajar puteri, karena akibat pelanggaran seksual itu sangat membeka pada perutnya yang membuncit serta robeknya selaput virgin. Sedangkan bagi pelajar putera, kadang-kadang dapat bersikap lempar batu sembunyi tangan. Menghindarkan dari tanggung jawab.
    Memperhatikan perilaku kehidupan remaja, menunjukkan bahwa pengaruh orang tua dan stimulasi positifnya masih terlalu rendah. Amat sedikit orang tua dan anak melakukan acara ngumpul-ngumpul untuk melakukan dialog dari hati ke hati. Paling banyak cuma mengadakan ngumpul-ngumpul untuk menonton film serial di Televisi. Kebanyakan pengaruh buruk pada remaja justru. datang dari luar, yaitu melalui media massa cetak, audio visual, dan melalui pergaulan.
    Pada umumnya kegemaran remaja, pelajar, adalah membaca, menonton, mendengar musik, berkumpul dan ngobrol-ngobrol disamping melakukan aktivitas produktif yang lain. Pada umumnya orang tua tidak tahu apa yang mereka baca dan apa yang mereka tonton. Hal ini mungkin karena kesibukan, karena kurang peduli atau juga karena orang tua merasa enggan mencampuri urusan anak muda. Mungkin juga karena orang tua tidak mengenal tentang perkembangan jiwa remaja. Mungkin pada suatu hari datang teman mengatakan bahwa ada Info bagus, sebagai isyarat telah ada peluang bagi mereka untuk menikmati bacaan atau film porno. Maka mereka pun membaca buku porno itu atau menonton film biru secara diam-diam ditempat teman atau ditempat lain.
    Bacaan dan tontonan yang bersifat porno dapat mendatangkan kenikmatan dan merangsang keinginan seksual. Kemudian mereka akan berusaha mencari peluang untuk melampiaskannya secara sendiri atau berkelompok. Mungkin secara suka sama suka atau lewat perkosaan. Memang pengaruh pergaulan yang negatif sangat cepat meluas. Rata-rata orang tua tidak mengetahui istilah yang khas dalam pergaulan antara remaja istilah populer di kalangan mereka untuk mengartikan film biru adalah film 26, barangkali karena huruf B mewakili angka 2 dan huruf F mewakili angka 6.
    Walau orang tua telah membatasi pergaulan mereka dan melarang terhadap hal-hal yang bersitaf negatif, namun adanya kesempatan-kesempatan lain, bagi mereka tak mungkin semuanya terbendung. Tentu ada juga peluang bagi mereka untuk berkumpul-kumpul dan mengadakan tukar menukar informasi, ngobrol mangenai benda benda porno.
    Media massa yang dianggap sangat mengganggu kestablian jiwa remaja adalah bentuk audio visual yang mana secara diam-diam telah merayapi kehidupan mereka.
    Dewasa ini orang, sudah banyak memiliki video kaset tujuan utamanya adalah untuk sarana hiburan anggota keluarga. Tetapi kemudian dibisniskan menjadi tujuan komersial dengan menyulap rumah mereka menjadi bioskop mini dan memungut uang tontonan dari kaset-kaset blue film. Rata-rata peminatnya adalah anak-anak pelajar, bukan saja dari tingkat SLTA tetapi juga pelajar tingkat SLTP setelah mengalami wet dream. Pelajar-pelajar di kota dan di desa banyak yang telah mengetahui lokasi-lokasi rahasia dari bioskop, mini ini. Sungguh bagi pemilik video cabul sekeping uang lebih berharga dari segalanya. Mereka tega meracuni fikiran dan jiwa generasi muda melemahkan semangat pelajar untuk belajar dan bekerja.
    Film-film dan bacaan porno sangat cepat merangsang penontonnya, begitu pula bagi pelajar. la cepat sekali meningkatkan ambisi seksual, dorongan seksual membuat mereka ingin melakukan iseng-iseng, mungkin terhadap pacar atau terhadap wanita lain. Ada majalah dan buku porno terbitan dalam dan luar negeri yang telah beredar secara diam-diam di kalangan mereka.
    Secara naluriah, remaja laki-laki bersifat agresif dan remaja wanita bersifat pasif. Remaja pria sangat tertarik kepada info-info yang bersifat seksual. Sedangkan remaja wanita tertarik kepada hal-hal yang bersifat romantis.
    Banyak anak-anak remaja yang tidak atau kurang punya latar belakang pendidikan agama, orang tua pun tak memberi perhatian yang cukup. Mereka itu dapat saja memperkenalkan bacaan dan majalah porno kepada teman wanita, lawan jenis mereka. Dan kemudian mencari tempat-tempat yang sepi. Setelah terangsang mereka melakukan hubungan seksual yang mana agama menyebutnya sebagai perbuatan zinah.
    Rata-rata pelajar yang berkasus hubungan seksual ini secara suka sama suka. Perbuatan itu sebagian dilakukan di rumah atau di tempat tersembunyi dan sebagian lagi di tempat rekreasi yang suasananya lengang.
    Umumnya kasus pelanggaran seksual dan kehamilan pelajar ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan orang tua. Minusnya didikan agama, broken home (orang tua yang sibuk dan suka bertengkar) dan akibat komunikasi yang sangat jelek, di rumah. Berpacaran secara sembunyi-sembunyi dan pergaulan yang sangat bebas dapat menjerumuskan pelajar putera dan puteri kepada perbuatan zina dan kehamilan. Dimana untuk seterusnya akibat perbuatan mereka itu pada gilirannya akan mencemari nama baik sekolahnya. http://penulisbatusangkar.blogspot.com/

  2. MENAGIH KEPEDULIAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK
    Oleh: Marjohan
    Guru SMA Negeri 3 Batusangkar
    Program Layanan Keunggulan Kab. Tanah Datar , SUMBAR

    Siapa yang lebih bertanggung jawab atas pendidikan anak, gurukah atau orang tua? Jawabannya tentu saja tergantung pada titik pandang setiap orang yang mencoba untuk menjawabnya.
    Pada umumnya tanggung jawab mendidik anak diawali oleh kepedulian dan rasa tanggung jawab orang tua.
    Perhatikanlah bagaimana sibuknya sepasang orang tua yang baru punya bayi dan anak Balita dalam mencukupi kebutuhan dan mendidik buah hatinya.
    Mereka tampak begitu gembira dan menuturkan kepada siapa saja yang mau mendengar tentang perkembangan dan kemajuan yang telah diraih buah hatinya itu.
    Begitu anak dikirim ke Taman Kanak-kanak untuk belajar bersosial maka sebagian orang tua cenderung menyerahkan urusan mendidik anak pada sang guru. Namun sebagian masih tetap memantau, mendorong dan mengikuti perkembangan mereka sampai pendidikan Sekolah Dasar selesai.
    Dalam pengalaman ditemukan bahwa banyak orang tua yang jarang mengayomi anak belajar seperti saat mereka masih kanak-kanak, begitu mereka duduk di bangku SMP dan tingkat SMA.
    Sering kita dengan keluhan orang tua tentang prestasi anak mereka anjlok yang setelah berada di SMP. Atau mereka kaget dengan watak anak yang dulu begitu terpuji tetapi jadi memusingkan saat duduk di bangku SLTA.
    Kalau ini terjadi tentu ada pihak tertentu yang dapat untuk disalahkan. Setiap murid atau anak didik memiliki tiga aspek kehidupan, yaitu kognitif (otak), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan).
    Ada kecenderungan masyarakat untuk melemparkan kesalahan pada guru “gagal dalam mengajar” bila prestasi kognitif dan psikomotorik anak di sekolah dinilai rendah, dan melemparkan kesalahan kepada orang tua atau lingkungan bila menjumpai anak tidak punya sikap dan akhlak yang baik.
    Pada umumnya, bila anak mulai memasuki jenjang pendidikan formal maka orang tua menyerahkan urusan pendidikan anak kepada guru-guru di sekolah. Kepedulian nyata orang tua yang sering tampak adalah dalam bentuk pemenuhan kebutuhan anak yaitu dalam bentuk sandang, pangan dan papan.
    Selanjutnya mereka menghabiskan waktu untuk mencari nafkah dan untuk menekuni hobi dan hampir tidak punya waktu untuk menemani dan mengikuti perkembangan anak dalam belajar.
    Banyak orang tua yang memiliki waktu lowong namun jarang yang memanfaatkannya untuk mendidik anak.
    Penyebabnya adalah mereka sendiri tidak memiliki konsep bagaimana cara mendidik keluarga. Konsep mendidik anak bagi keluarga awam adalah menyerahkan anak ke mesjid dan ke sekolah, kemudian menghujani mereka dengan nasehat-nasehat, anjuran dan perintah atau kemudian memarahi anak kalau melanggar. Sebuah konsep pendidikan yang terlihat terlalu sederhana bukan? Dan ternyata hasilnya juga mengecewakan.
    Dari pengalaman bahwa umumnya hampir setiap anak (terutama remaja) tidak terlalu memerlukan nasehat, apalagi nasehat yang diberikan secara bertubi-tubi dan nada mendikte.
    Anak akan mencap orang tua yang begini sebagai orang tua yang sangat cerewet. Sebenarnya yang diperlukan anak dari orang tua adalah contoh teladan (contoh langsung) serta penyediaan sarana belajar dan kasih sayang.
    Sedangkan memberikan nasehat apalagi nasehat dengan nada yang penuh emosi akan membuat anak menutup pintu hatinya dan bahkan juga menjauhi orang tuanya.
    Demikian pula di sekolah, anak didik cenderung untuk membuat jarak dengan guru-guru yang pemarah.
    Selama anak berada dalam usia belajar di sekolah formal, masyarakat (orang tua) cenderung menempatkan beban pendidikan ke atas pundak guru.
    Di sekolah, anak diperkenalkan dengan sejuta aturan, mulai dari bagaimana hidup yang disiplin sampai kepada bagaimana mencapai keberhasilan hidup kelak. Di sekolah anak diajar untuk mengembangkan potensi diri, diajarkan sejumlah konsep dasar tentang kehidupan dan dibekali dengan tugas rumah (PR) sebelum pulang.
    Namun di rumah, kecuali bagi segelintir keluarga, anak dibiarkan hidup tanpa aturan, tidak diajar mandiri, terlalu didikte, dan terlalu banyak dibantu sehingga konsep belajar di sekolah akan menjadi kontradiksi dengan konsep belajar di rumah dengan porsi belajar yang terlalu sedikit dibandingkan dengan porsi hiburan dan bersantai. Kita tahu bahwa kualitas pendidikan anak didik di sekolah yang pada umumnya cenderung turun atau selalu jalan di tempat. Walau banyak sekolah yang mengklaim bahwa telah terjadi peningkatan kualitas anak didik di sekolahnya. Secara umum itu hanyalah sebatas angka-angka hasil rekayasa dan manipulasi data.
    Untuk fakta yang jelas, silahkan terjun ke lapangan untuk mengobservasi kualitas murid-murid pada setiap sekolah. Maka mayoritas terlihat murid yang minat belajarnya begitu rendah dalam suasana belajar penampilan mereka terlihat lesu dan santai ibarat orang kurang darah.
    Melihat kondisi anak didik yang lesu karena fikiran mereka kurang terkondisi sejak dari rumah maka ini akan membuat guru kehilangan strategi dalam memotivasi mereka. Umumnya metode yang disodorkan guru agar anak didik bergiat adalah dengan cara marah-marah dan menakut-nakuti atas ketidakacuhan mereka selama belajar maka hasilnya adalah nihil.
    Sebenarnya bila anak telah memasuki jenjang pendidikan formal, mulai dari tingkat SD sampai ke tingkat SLTA, maka tanggung jawab mendidik menjadi tanggung jawab bersama antar guru dan orang tua.
    Keberadaan orang tua dan guru dalam urusan mendidik adalah ibarat dua sisi mata uang. Hasil pendidikan tidak akan pernah sempurna kalau diserahkan saja kepada guru atau kepada orang tua yang notabenenya bukan sebagai pendidik.
    Selama ini terlihat kecenderungan bahwa sekolah sendirianlah yang memikul beban pendidikan. Sejumlah pelatihan, penataran, seminar, lokakarya dan program penyegaran lain telah diberikan pada guru-guru dengan harapan agar pendidikan lebih berkualitas. Selama mengikuti kegiatan ini, guru memperoleh pembekalan tentang bagaimana pendidikan dan pengajaran yang ideal.
    Dengan harapan agar pasca pelatihan mereka akan mampu membuat berbagai terobosan dan inovasi baru. Namun dalam kenyataan hasilnya tetap belum menggembirakan, malah cenderung tampak bahwa pasca pelatihan guru selalu menerapkan teknik dan metode mengajar seperti semula.
    Kini terlihat bahwa untuk mendongkrak mutu pendidikan bangsa, sekolah bergerak sendirian tanpa melibatkan orang tua secara tegas dan memberikan isyarat tentang apa dan bagaimana seharusnya orang tua terhadap anak di rumah. Padahal untuk ini pemerintah telah menghabiskan dana jutaan dolar dan guru menghabiskan waktu serta tenaga untuk mengikuti berbagai pelatihan dan penataran hanya demi perubahan kecil saja dalam meningkatkan mutu pendidikan.
    Sekarang kita patut beranya bahwa adakah ahli pendidikan yang memikirkan untuk memberikan pelatihan terhadap orang tua murid seperti memberi pelatihan kepada guru-guru atau adakah pihak sekolah secara kontinyu melowongkan waktu untuk berbagi pengalaman hati ke hati secara rileks tentang pendidikan dalam bentuk komunikasi dua arah dan tanpa menggurui orang tua?
    Kepedulian orang tua dalam mendidik anak yang belajar di Sekolah Dasar apalagi pada tingkat SMP dan SLTA, seperti kepedulian mereka mendidik anak saat masih di Taman Kanak-kanak, mencukupi kebutuhan makanan, hiburan, mengembangkan sosial dan emosional, sampai dengan penyediaan sarana hiburan dan pendidikan adalah mutlak diperlukan. Dalam kenyataannya kepedulian orang tua nyaris berkurang. Pada hal saat anak menginjak remaja dan mengalami krisis jati diri mereka sangat memerlukan orang tua sebagai teman pendamping untuk berbagi pengalaman dan kegelisahan.
    Memang tidak mudah untuk mengikuti perkembangan dan pendidikan anak sampai tingkat remaja. Namun kalau orang tua selalu mau belajar dan menjadikan belajar sebagai kebutuhan dalam hidup maka tidak akan ada hal-hal yang terlalu sulit untuk diatasi. Dalam zaman informasi ini yang mana pengetahuan serba mudah untuk diperoleh, maka setiap orang akan dapat mencari solusi dari buku, bacaan lain, dan dari internet serta paling kurang dari teman dalam bentuk saling berbagi pengalaman.
    Kita perlu mengritik orang tua yang terlalu menomorsatukan karir dan pekerjaan tetapi sangat mengabaikan pendidikan anak sendiri. Dalam hidup ini cukup banyak kita temui orang-orang yang mantap dalam pekerjaan dan sangat trampil dalam mendidik dan membina orang lain tetapi gagal dalam membina anak-anak sendiri, apalagi kalau sampai drop-out dari sekolah. Kita pantas mengacungkan jempol kepada sang ayah dan ibu walau hanya pendidikan formal biasa-biasa saja tetapi punya wawasan dan konsep dalam mendidik keluarga, telah mampu berpartisipasi dalam menyukseskan pendidikan anak-anak di sekolah.
    Dalam mendidik keluarga dan ikut menyukseskan pendidikan anak di sekolah, setiap orang tua perlu mengorbankan waktu, tenaga dan uangnya. Meluangkan waktu untuk membuat kebersamaan dengan anak adalah sangat penting. Adalah sangat tidak berguna meluangkan waktu sampai berjam-jam tetapi kebersamaan dengan anak penuh dengan pengalaman kemarahan dan beda pendapat. Anak memerlukan kebersamaan yang menyenangkan dan bermutu dan teratur tiap hari. Untuk itu setiap orang tua perlu untuk menata waktu dan keluarga kembali sebelum hal-hal yang tak diingini terjadi. Semoga menjadi renungan bagi setiap orang tua.
    http://penulisbatusangkar.blogspot.com/

  3. Ini apa-apaan sih?
    Mana ada Provinsi Padang ???
    Sembarangan banget.
    Ga pernah belajar IPS yah ?

    Cari referensi dulu bung, baru nulis! Ejaan salah dimana-mana. very bad at all

  4. boy

    Good….benar sekali yang bapak katakan,,dalam hal pendidikan semua nya diberi kan kepada anak dan guru saja,orang tua hanya tahu memberi fasilitas saja tampa anda proses pendekatan yang baik,,sehingga fasilitas tersebut memberikan beban yang teramat berat kepada siswa-siswi,hal inilah menjadi salah satu faktor yang menyebab kan banayg anak yang terjerumus ke hal-hal negativ.

  5. moons and stars tattoos,

  6. Oleh: Yosephine Pekanbaru/Duri My Girl before

    pada zaman sekarang banyak sekali generasi muda yg terjerus kpd yg tdk semestinya mereka buat dan meraka banyak sekali meniru perbuatan yg ada pada zman modren

  7. tia

    masa ada provinsi padang,,,adanya sumatra barat kaliii,,,,,,,

  8. kenji

    bacoddd!!!!!!!!!!mana ada provinsi padang




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d bloggers like this: